Revitalisasi Marturi di Madina: Tradisi Lisan Mandailing Yang Hampir Punah Kembali Digelorakan

Revitalisasi Marturi di Madina: Tradisi Lisan Mandailing Yang Hampir Punah Kembali Digelorakan

Budaya
Revitalisasi Marturi di Madina (Sumber: mohganews.co.id)

Budaya Mandailing Natal kembali bergairah melalui program revitalisasi Marturi — tradisi sastra lisan khas suku Mandailing yang nyaris hilang — yang disosialisasikan di enam titik di Kabupaten Madina pada 13-14 Oktober 2025.

Latar Belakang

Tradisi Marturi (atau disebut juga marturi sastra Tradisi Lisan Mandailing) telah menjadi bagian integral dari warisan budaya suku Mandailing. Melalui Marturi, cerita-rakyat, kearifan lokal, nasehat adat dan nilai moral disampaikan secara verbal antar generasi.
Di tengah modernisasi dan dominasi media sosial, banyak generasi muda yang mulai kurang mengenal Marturi — sehingga nilai ini tergolong “nyaris punah”. Untuk itu, program revitalisasi menjadi langkah penting.

Program Revitalisasi Marturi di Madina

Pada 13-14 Oktober 2025, Sanggar Samisara bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Medan (di bawah Kementerian Kebudayaan RI) menggelar program sosialisasi Marturi di enam titik di Madina.
Kegiatan ini mencakup: pelatihan penceritaan Marturi untuk generasi muda, perekaman ulang cerita tradisional, serta dialog antar generasi mengenai nilai-nilai yang terkandung.
Tujuannya: memperkuat identitas budaya Mandailing, menjaga keberlanjutan Marturi sebagai warisan, serta memicu minat anak-muda agar terlibat aktif.

Signifikansi Sosial dan Budaya

  1. Memperkuat identitas lokal — Dengan Marturi, warga Mandailing Natal (Madina) kembali tersambung ke akar budaya mereka.
  2. Penguatan kearifan lokal — Nilai-nilai Marturi seperti hormat terhadap orang tua, ‘bagas godang’ (musyawarah) dan kerja sama masyarakat ikut dipulihkan.
  3. Generasi muda sebagai tonggak pelestarian — Dengan melibatkan generasi muda langsung, program ini menghindari Marturi menjadi sekadar kenangan tanpa penerus.

Tantangan dan Peluang

  • Tantangan: Teknologi dan media sosial yang mendominasi ruang komunikasi generasi muda membuat Marturi dianggap kuno atau tidak relevan.
  • Peluang: Integrasi Marturi ke dalam pendidikan formal atau kegiatan ekstrakurikuler budaya; digitalisasi rekaman Marturi untuk akses global; kolaborasi komunitas lokal dengan pelaku seni kontemporer agar Marturi terlihat “kaya” dan relevan.

Kesimpulan & Ajakan

Budaya Mandailing Natal menunjukkan sinyal kebangkitan lewat revitalisasi Marturi. Upaya ini bukan hanya menyelamatkan sebuah tradisi — tetapi juga memperkuat identitas dan kearifan lokal yang sangat dibutuhkan di zaman global. Mari generasi muda Madina ikut berperan, agar Marturi tetap hidup dan lestari.

Referensi (Kutipan)

  • “Revitalisasi Marturi tradisi lisan khas Mandailing yang hampir punah disosialisasikan di Madina.” — Antara News, 4 Oktober 2025. Antara Sumut
  • “Budaya di Mandailing Natal … salah satu warisan budaya tersebut adalah Gordang Sambilan.” — Info Madina, sejarah budaya Mandailing Natal. Info Madina – Madina Maju Madina Madani
  • “Budaya Mandailing di era globalisasi … Mandailing dikenal dengan seni musik Gordang Sambilan, tarian tradisional Tortor serta adat istiadat.” — KejarFakta.co, 15 Desember 2024. sumut.kejarfakta.co
  • “Wabup Madina: pengaruh media sosial membuat anak muda lupa jati diri.” — HayuaraNet. MADINA HAYUARANET

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *